Perkembangan Pendidikan Jelang Revolusi Industri 4.0

02 February 2022 · 7 bulan yang lalu Perkembangan Pendidikan Jelang Revolusi Industri 4.0 Foto : Perkembangan Pendidikan Jelang Revolusi Industri 4.0

Jika mengatakan ‘belajar’, maka yang terlintas di pikiran adalah datang ke sekolah lalu duduk belajar di dalam kelas mendengarkan materi dari guru. Proses belajar pun dengan buku tebal yang berada di atas meja sebagai acuan ajar. Jika kekurangan bahan ajar, maka perpustakaan adalah tempat terbaik untuk mencari buku-buku yang melengkapi materi. Namun, hal tersebut adalah pola lama dalam belajar. Peserta ajar digiring untuk belajar secara statis di dalam kelas dan mendapatkan materi hanya dari satu sumber saja sehingga output yang dihasilkan pun terbatas.

Belajar dengan pola lama masih bercokol di tengah masyarakat meski kini pendidikan sudah berada di ranah serba teknologi. Hal itu disebabkan pemerataan pendidikan yang masih belum maksimal. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), secara keseluruhan hingga 2017, sekitar sepertiga dari seluruh penduduk Indonesia di atas 15 tahun hanya mengenyam pendidikan hingga Sekolah Dasar (SD), di antaranya melanjutkan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan sebesar 75% persen melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA).

Hingga akhir 2017 Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan Indonesia masih jauh di bawah target yang ditentukan pemerintah. APK SD sebanyak 108,50 dari target sebesar 114,1, APK SMP adalah 90,23 dari target 106,9, APK SMA sebesar 82,84 dari target 91,6, dan perguruan tinggi di angka 25,00 dari target 36,7.

Padahal untuk berada di ranah Revolusi Industri 4.0, sumber daya manusia dituntut untuk memiliki kecakapan teknologi dan nilai substantif yang praktis dan berkualitas, bukan hanya pendidikan dasar saja.

Kecakapan serta nilai substantif sangat mendukung Revolusi Industri 4.0. Revolusi tersebut merupakan tren terbaru yang menggabungkan teknologi otomatisasi dan cyber. Maka, nilai yang dibutuhkan adalah:

  • Wawasan pengetahuan, kebijaksanaan, dan intelektualitas
  • Kemampuan komunikasi, berbahasa, dan menulis
  • Daya berpikir kritis, logis, dan cerdas (reasoning)
  • Daya imajinasi dan kreativitas
  • Daya ketekunan dan kesabaran
  • Daya kontemplasi
  • Daya empati dan budi

Hal itu dapat ditunjang dengan pola belajar yang modern dan praktis. Maka, meninggalkan pola belajar lama merupakan pekerjaan rumah bagi Indonesia, bukan hanya bagi pemerintah, tapi juga bagi masyarakat sendiri.

Pada sisi lainnya, kemajuan teknologi juga mulai dirasakan sebagian masyarakat Indonesia. Walau belum bisa dikatakan merata secara tepat di suatu wilayah, namun kemajuan tersebut sudah mulai membudaya, seperti penggunaan teknologi di setiap sekolah-sekolah. Adanya aplikasi berbasis teknologi juga menjadi salah satu gerbang memasuki era Revolusi Industri 4.0. Kini, anak-anak sekolah tidak lagi melulu harus datang ke sekolah atau ke perpustakaan untuk mendapatkan bahan ajar. Pola belajar lama perlahan mengikis, terutama di kota-kota besar di Indonesia.

Pelajar hanya memerlukan smartphone untuk bisa mendapatkan buku pelajaran atau buku-buku bacaan tambahan secara online. Pelajar bisa mengunduh e-book serta membacanya di mana pun dan kapan pun tanpa perlu datang ke perpustakaan fisik atau membayar biaya pinjam buku dengan mahal.

Selain itu, aplikasi berbasis edukasi juga digunakan untuk proses belajar mengajar di sekolah sehingga pelajar pun dapat menjelajah dunia dengan mudah. Interaksi pun dapat lebih mudah dengan adanya komputasi awan untuk penyimpanan data-data elektronik yang dapat diakses di kapan saja.

Adanya perkembangan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi penunjang kualitas sumber daya manusia untuk menjawab tantangan menuju Revolusi Industri 4.0 secara merata untuk masyarakat Indonesia secara menyeluruh.


SMK Dominasi Tingkat Pengangguran, Kok Bisa?
SMK Dominasi Tingkat Pengangguran, Kok Bisa?
03 February 2022 · 7 bulan yang lalu
Kemendikbud: Sistem Zonasi untuk Pemerataan Pendidikan
Kemendikbud: Sistem Zonasi untuk Pemerataan Pendidikan
03 February 2022 · 7 bulan yang lalu